LAMPUNG UTARA — Salah seorang tokoh masyarakat sekaligus pemerhati petani dari Lampung Utara, Basirun, memprotes keras pernyataan yang dikeluarkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung di media massa yang membantah soal kondisi fasilitas jaringan irigasi primer yang tidak di rawat dan telah dilakukan pembersihan.
Menurut Basirun, pihak BBWS Mesuji Sekampung jangan memberikan pernyataan palsu yang berpotensi blunder, karena fakta dilapangan justru menunjukan kondisi yang sebaliknya. “Nggak usah kebanyakan mulut, lihat saja dengan mata sendiri bagaimana kondisi saluran irigasi mulai dari wilayah Abung Timur sampai Pulung Kencana,” ujarnya.
Basirun menyebut jika kondisi fasilitas jaringan irigasi primer disana justru dipenuhi gulma dan endapan sedimen yang membuat macetnya saluran air. “Dengan kondisi yang demikian itu bagaimana pihak Balai mengatakan kalau sudah dilakukan perawatan. Apanya yang dirawat?,” tanya Basirun.
Pemerhati petani yang terkenal vokal ini juga menyoroti soal tata kelola anggaran milik BBWS Mesuji Sekampung sebesar Rp48.350.883.000, dimana dengan dana sebesar itu tidak memberikan dampak serapan optimal bagi kondisi fasilitas jaringan irigasi yang ada.
“Anggaran yang mereka (BBWS Mesuji Sekampung-red) kelola itu sangat besar, namun tidak memberikan dampak pertumbuhan yang signifikan. Semestinya para petinggi BBWS Mesuji Sekampung dapat melihat secara langsung kondisi yang ada dan bukan Cuma terima laporan yang sifatnya ABS alias asal bos senang,” cetusnya.
Basirun juga meminta agar pihak penegak hukum baik dari Polda maupun Kejati Lampung bisa menindaklanjuti persoalan ini karena berpotensi menimbulkan kerugian Negara dan sangat merugikan petani di daerah.
“Anggaran yang dikelola itu sangat besar tapi realisasi di lapangan fasilitas jaringan irigasi terbengkalai, jelas ada dugaan penyelewengan anggaran dalam persoalan ini,” tandasnya.
Selain itu, sebagai pemerhati petani, Basirun, menerangkan jika dengan kondisi fasilitas jaringan irigasi yang tidak optimal akan sangat mempengaruhi produktivitas masyarakat dalam bercocok tanam. “Jika hal ini di biarkan maka petani akan terancam gagal panen, jangan oknum yang mencari keuntungan petani yang menanggung penderitaan, terangnya.
Edisi mendatang media ini akan mengupas lebih dalam persoalan ini termasuk soal bagaimana tanggapan dari para petani di ujung saluran induk yang tidak kebagian air. Hingga naskah ini dilansir, awak media ini juga masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak BBWS Mesuji Sekampung. (Dafi)

