‎BANDAR LAMPUNG — Koordinator Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GRAK) Lampung, Chaidir, menuding pernyataan dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Lampung, sebagai sebuah klaim sepihak yang sangat tidak berdasar dan lebih terkesan tendensius. Chaidir bahkan menyarankan sang Kakanwil untuk membenahi ‘pekarangan rumahnya sendiri’ sebelum menyoroti dinamika yang ada diluar. “Jangan asal mangap, lebih baik berkaca dulu sebelum bicara. Kalo ngomong asal bunyi kentut juga bisa berbunyi,”

‎Hal tersebut disampaikan Chaidir menyikapi pernyataan Kakanwil  Ditjenpas Lampung, yang mengaku menyoroti dinamika LSM dan media yang kerap melakukan hal-hal di luar kewajaran, saat bersama jajarannya melakukan kunjungan silaturahmi ke organisasi profesi kewartawanan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Lampung, pada Rabu, 1 Juli 2026.

‎”Tolong dijelaskan hal-hal seperti apa dari LSM dan Media yang dikatakan di luar kewajaran itu, jangan asal lempar pernyataan saja tapi faktanya kosong. Justru jajaran Ditjenpas sendiri yang berprilaku menyimpang dengan maraknya skandal dugaan Korupsi tata kelola anggaran di Lapas dan Rutan,” ujarnya saat dikonfirmasi media ini.

‎Menurut Chaidir, pihaknya memang tengah konsen dalam menyoroti tata kelola anggaran yang ada di sejumlah Lapas dan Rutan di Provinsi Lampung, dimana hal tersebut selama ini terkesan luput dari pengawasan. Sedangkan banyak informasi berseliweran soal bagaimana buruknya kondisi yang menimpa warga binaan selama ini.

‎”Kita memang fokuskan temuan itu pada anggaran yang digunakan untuk warga binaan, karena sudah banyak informasi yang kita terima soal bagaimana kondisi di dalam rutan dan lapas yang tidak sesuai dengan ketersediaan anggaran yang ada dan semua itu sudah kami ungkap di media massa agar mendapat atensi publik dan netizen sosial media,” urainya.

‎Bagi Chaidir sikap Kakanwil Ditjenpas Lampung ini hanya merupakan sebuah langkah dari pihak yang sedang kelimpungan dan berupaya mencari pembenaran. “Kalau orang mau tenggelam itu bahkan ranting kering akan diraih untuk cari keselamatan,” imbuhnya.

‎Chaidir menerangkan, sebelum bicara soal kode etik wartawan, lebih baik Kakanwil Ditjenpas Lampung membenahi etik jajarannya sendiri dan pastikan setiap Rupiah anggaran yang bersumber dari uang negara itu terserap secara maksimal, sehingga tidak ada lagi nada sumbang soal tata kelola anggaran dari balik tembok penjara.

‎”Soal etika profesi itu tidak tergantung dari sebuah organisasi profesi tertentu karena sifatnya independen dan tergantung kepada individu masing-masing. Jadi untuk Kakanwil Ditjenpas Lampung, sebelum belajar urusan rumah orang lain, benahi saja dulu pekarangan sendiri,” tutupnya. (Redaksi)