BANDAR LAMPUNG — Fakta memalukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Bandar Lampung tak lagi bisa ditutup-tutupi. Terkuaknya jaringan narkoba yang dikendalikan bebas dari balik jeruji besi bukan hanya memicu kemarahan elemen masyarakat, tapi juga meledakkan ribuan kesaksian jujur warganet yang mengonfirmasi: Lapas Rajabasa bukan tempat pembinaan, tapi tempat bisnis paling aman bagi penjahat berduit!
Kasus ini viral luas setelah bukti video call dan rekaman percakapan ‘Jawa’ dan ‘Bramsyah’ — dua bandar narkoba kelas kakap — beredar. Di dalam rekaman itu terlihat jelas mereka memegang HP, mengatur pengiriman barang, bahkan memamerkan tumpukan sabu dan ekstasi seolah mereka sedang duduk di kantor pribadi, bukan di dalam sel penjara.
SUARA PUBLIK MENJADI BUKTI NYATA
Komentar netizen semakin menelanjangi kebobrokan sistem di sana, bahkan banyak yang berani berbagi pengalaman pribadi:
“Lapas Rajabasa itu tempat nyamannya koruptor dan napi berkelas. Kalau punya uang, hidup enak di dalam!” — Mario Fendra
“Saya dengar langsung dari mantan napi, di sana semuanya bayar. Mau pakai HP, mau berobat, mau dapat makanan layak, SEMUA HARUS BAYAR. Kalau tak ada uang? Diperlakukan seperti sampah, bukan manusia. Ini bukan dugaan, ini fakta!” — Tomi Siregar
“Bukan rahasia umum lagi, narkoba justru lebih gampang didapat di dalam penjara daripada di luar sana.” — erwiind_
474 “HP bebas pakai asal punya uang. Saya pernah mengalaminya sendiri. Aparatnya yang paling keparat, merekalah yang membuka jalan!” — Fadly S
Kesaksian ini membuktikan satu hal: Kata “pembinaan” di Lapas Rajabasa hanyalah sampul manis. Faktanya, di sana berlaku hukum uang. Siapa kaya, dia berkuasa.
GRAK: INI BUKAN KELALAIAN, INI KERJA SAMA TERORGANISIR!
Koordinator GRAK Lampung, Chaidir, menegaskan bukti yang ada sudah cukup kuat untuk memecat pimpinan.
“Apalagi yang mau dibantah? Bukti video sudah ada, kesaksian sudah ada. Bagaimana mungkin barang haram, HP, dan orang luar bisa masuk bebas kalau tidak ada OKNUM YANG MENGIZINKAN? Ini sudah jelas ada main mata dan perlindungan!” tegas Chaidir.
Ia menuntut Kemenimipas segera mencopot Kalapas Ike Rahmawati. “Dia baru saja berpidato soal integritas, tapi kenyataannya penjara jadi sarang narkoba. Itu bukan malu, itu penghinaan terhadap negara!” tambahnya.
MODUS OPERANDI TERBONGKAR
Dari penelusuran, terungkap modusnya sangat rapi. Orang kepercayaan bernama Oci rutin datang membesuk membawa uang setoran sekaligus menyelundupkan sabu dalam jumlah besar. Semua berjalan mulus tanpa hambatan.
Sikap pihak Lapas semakin memperkuat dugaan. Saat dimintai tanggapan, mereka meminta bukti, tapi setelah diberikan MEREKA DIAM SERIBU BAHASA dengan alasan belum bertemu pimpinan.
Masyarakat bertanya: Sampai kapan kita biarkan penjara menjadi markas kejahatan? Dan sampai kapan uang rakyat membayar gaji orang yang justru melindungi penjahat?(Redaksi)

